Review / Ulasan Film: Sleep Call (2023) Opresi Yang Purba



Nihilistik sampai ke akar, terima kasih Fajar Nugros telah berani membuat film / sinema Indonesia dengan tema seperti ini, tema yang relevan dengan kehidupan zaman era internet dan juga cepatnya perubahan zaman, adaptasi yang membuat manusia semakin harus berkompetisi, melawan batas diri mereka demi sistem, hingga jiwa menjadi taruhannya.

Film ini secara substansi adalah tentang opresi, tentang patriarki, tentang relasi kuasa atau absolutisme kekuasaan yang membuat rantai bawah menjadi budak, budak dari kebiadaban otoritas tersebut.

Itu menjadi lebih buruk dengan hampa dan kosongnya jiwa manusia di dunia nyata, tekanan sana-sini semakin keras, alhasil, pelarian daring yang aman menjadi pilihan, walau tak jarang, pilihan itu memiliki resiko yang mungkin tak sepadan.

Mengikuti perjalanan Dina, wanita yang bekerja di sebuah perusahaan pinjaman online, dimana ia merupakan pribadi yang tidak tegaan, tetapi demi tuntutan, ia harus menegasikan empatinya, dengan dingin dan kerasnya sistem mekanistik, materialis.

Masalah menjadi semakin buruk saat Dina yang menjadi penagih hutang, terjerat hutang juga, film ini menggambarkan perasaan " stuck, terjebak, terperangkap " dalam sistem dengan amat mantap, sementara secara ritual ia melarikan diri lewat eskapisme sleep call dengan pria anonim bernama Rama, setiap jam 10 malam, ini menjadi penahan jiwanya agar tidak pecah, tetapi bukan hal yang natural, seperti layaknya narkoba, porn, dan alkohol, Dopamin yang didapatkan tidak sebanding dengan resiko yang terjadi di akhir.

Laura Basuki berhasil memerankan seorang wanita metropolitan kelas pekerja yang struggle, kita merasa " kasihan " saat melihat karakter Dina ini, karena memang sudah sistemik dari awal, ibunya powerless karena ayahnya yang abusif, ini semua terjadi dari sini, dimana mungkin yang menyebabkan banyak wanita yang benci terhadap sosok laki-laki. memang, kebanyakan laki-laki mungkin memang seperti itu, bajingan dan sampah.

Semuanya berjalan dengan eskalasi yang mengerikan, well, bittersweet, ada beberapa hope, tapi tampaknya harapan imajiner / semu, teman kerja yang palsu, selalu sibuk ketika kita sedang ingin cerita dan meminta bantuan akan masalah kita, bos yang menyalahgunakan relasi kuasa dan mengeksploitasi karyawannya, dan, hanya kebanyakan manusia yang pasrah, tunduk terhadap sistem.

Semuanya hampir sempurna namun bagian klimaks dan penyelesaian tampaknya agak terlalu terburu-buru, sehingga harusnya idealisasi yang lebih optimis dapat terjadi, tapi mungkin, well, film ini ingin nihilistik mentok, dan itu sah-sah saja, karena memang 90-99% dunia alter ego adalah kepalsuan, tapi secara pribadi, saya ingin ada secercah harapan disana, ada semacam anomali yang melawan nihilisme absolut ini, tapi tidak, mentalitas romantik yang saya harapkan terjadi masih di awang-awang, masih terlalu dini untuk dunia yang mekanistik, pragmatis dan materialistik ini.

Postingan populer dari blog ini

Review / Ulasan Film Qodrat (2022) Entitas Demonik Yang Buas

Review / Ulasan Film: Ronggeng Kematian (2024) Gejolak Kawula Muda