Review / Ulasan Film: Kafir: A Deal With The Devil (2018) Selubung Dari Harmoni Semu Keluarga
Menjumpainya di Prime dan melihat sinopsis awalan yang menarik, yang menceritakan tentang sebuah keluarga yang tampaknya terlihat harmonis di ruang makan, ternyata setelah kepala keluarga yakni bapak dari keluarga ini meninggal, terjadi semacam kejadian-kejadian diluar nalar dan ekplanasi sains, dengan yang menjadi titik grief utama adalah sang istri, atau ibu dari Andi dan Dina, di film ini.
Jujur, film ini mempunyai potensi yang sangat besar, nuansa di bagian awalan cukup membuat saya merasakan film horror ala global yang berkualitas, tapi tidak berlangsung lama dikarenakan, dialog di film ini yang terlihat cukup kaku dan juga kurang jernih, entah itu dari perbendaharaan kata, maupun yang lainnya.
Selain dialog, saya menyadari bahwa karakter Ibu di film ini agak ambigu, dalam artian, kadangkali terlihat ibu di film ini lebih muda, tapi terlihat juga kadangkali lebih tua, dalam artian sifat, bukan hanya paras, karena yang memerankannya pun usianya masih muda, jadi agak blur saja.
Selanjutnya, beberapa pencahayaan terasa cukup baik, tapi tidak berlangsung lama sampai efek visual yang dipresentasikan terlihat kasar, ala kadarnya, tapi saya tetap mengapreasinya, walau tampaknya mungkin bisa direalistikkan lagi.
Tadinya saya ingin mengkritisi mengenai para karakter, akan tetapi beberapa karakter tampaknya memang dibuat menjadi semacam itu untuk nanti sampai ke bagian klimaks dan substansi filmnya.
In a way ada elemen yang minor yang membuat saya salah berpikir tentang film ini, bukan plot twist, lebih kepada bias dugaan hahaha, saya mengapresiasi sutradara untuk hal ini.
Karakter Andi di film ini sangat menyebalkan di awalan sampai menengah, membuat saya ingin memaki-maki nya, karakter Hanum pun seperti linglung, tapi ada semacam benang merah, okelah.
Saya melihat karakter Dina di film ini bagus aktingnya, artis yang memerankannya pun mungkin bagus, pacing, ekspresi, in a way cukup oke banget.
Film yang bertemakan kafir, religius, dan juga depresi maupun grief memang selalu mendapatkan hati, Indonesia memang kaya akan kultur dan budaya dan banyak kekayaan lainnya, yang seharusnya jika diterapkan dalam sinema sudah pasti mantap, hanya tinggal ide yang gila juga teknis yang perlu dipelajari oleh para sutradara, yang akan membawa negara ini menjadi diakui. Maybe udah, or someday!